Showing posts with label agriculture. Show all posts
Showing posts with label agriculture. Show all posts

Tuesday, November 4, 2008

Indonesia to be self-sufficient in rice this year: BPS

The Central Bureau of Statistics (BPS) predicted that Indonesia would achieve self-sufficiency in rice in 2008 because based on the estimate its rice production this year would increase by 3.12 million tons of unhusked rice (GKG) or about 5.56 percent of the production in 2007.

Head of BPS Rusman Heriawan said here on Monday that the increase by five percent based on the estimate would raised national rice production to 60.28 million tons of GKG.

"With the estimate it is projected that Indonesia would become self-reliant in rice in 2008," he said adding that the 5.46 percent increase was something that happened rarely because usually the high increase was noted at three percent at the most.

He said that in the two consecutive years Indonesia`s rice production had been increasing extraordinarily where last year its rice production was recorded at 57.15 million tons of GKG. In 2006 it was only recorded at 54.45 million tons GKG.

Therefore, he said, it could be ascertained that Indonesia would become a rice self-reliant country this year if the big rice production realized and it no longer needed to import rice in the coming two years.

Heriawan said that Indonesia`s rice production increased because the acreage of harvestable rice increased by 195.98 thousand hectares or 1.16 percent and the rice productivity also increased by 170 kg per hectare or about 3.78 percent.

source:

Wednesday, October 22, 2008

Kuwait invests US$300 million in Mamuju, West Sulawesi

A Kuwaiti company, Gulf Investment House (GIH), has invested around US$300 million in Mamuju district, Mamuju, West Sulawesi, through capital participation in the Mamuju regional company (Perusda Mamuju).

The memorandum of understanding on the investment was signed by Perusda Mamuju`s president director Benyamin S and GIH`s president director Raseed Al-Badab here on Tuesday, in the presence of Mamuju district head Suhardi Duka and the chairman of the district`s legislative assembly, Thamrin Endeng.

Raseed Al-Badab said on the occasion that his company was attracted to invest in Mamuju because of the region`s natural as well as human resource pontentials that could be exploited to support investment activities.

He said his company had had investments almost across the world such as Europe and America but because it was difficult to develop them the company decided to move them to Asia and to Indonesia in particular.

"We are attracted to invest in Indonesia and in Mamuju in particular because most of the country`s population are Moslem and therefore making it easier for the company to conduct shariah-based investment," he said.

He said he hoped the investment that his company had put in Mamuju would be successful so that it could contribute positively to the development of the company as well as the people in the region.

Suhardi Duka meanwhile said that the US$300 million investment was an initial GIH capital participation as a contractor for Perusda Mamuju before it would later invest in West Sulawesi in line with the existing law.

He said GIH would invest in the region for 30 years to process natural resources in Mamuju such as oil and gas, gold, coal, nickel, iron ore and potentials in the forestry as well as plantation sector.

In view of that he said he asked Perusda Mamuju as a GIH partner to cooperate professionally and transparently with the Middle Eastern company.

"We hope that the investment of GIH could empower the local people and increase local income for raising the living standard of the people," he said.

source: Antara

Saturday, July 26, 2008

Investor Oman incar sektor energi dan pertanian

Investor asal Oman, Global Financial Investment Holding, berencana menanamkan investasi senilaiUSD35 juta atau sekitar Rp322 miliar di sektor energi dan pertanian.

Kedua sektor tersebut dilirik terkait besarnya potensi pasar yang ada. "Tadi pagi (kemarin) mereka datang ke saya untuk menyosialisasi keinginannya ini. Kami menyambut dengan baik," ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris.

Dia mengatakan, Global Financial Investment Holding berminat untuk masuk dalam industri pengolahan gas dan sektor perkebunan, khususnya sektor pangan, meliputi padi, jagung, dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Pada tahap awal, perusahaan tersebut akan berinvestasi senilai USD25 juta untuk membangun pabrik pengompresan gas (compressed natural gas/CNG) di Bekasi, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Di kedua bisnis tersebut, investor asal Oman ini menggandeng perusahaan swasta nasional PT Energy CNG. Direktur PT Energy CNG Septo Adjie Sudiro mengatakan, kajian investasi Global Financial di sektor energi sudah selesai dilaksanakan. Awal tahun depan, pembangunan pabrik CNG akan direalisasi. Sementara di sektor pertanian, Global Financial akan memulai ekspansinya tahun ini.

Perusahaan itu telah memiliki lahan di Lampung seluas 100 hektare. Target yang ingin dicapai, kata dia, adalah memiliki lahan seluas 500 hektare dimulai tahun ini hingga tahun depan. Menurut dia, Global Financial sudah mengantongi izin Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang terbit Juni lalu untuk investasinya di kedua sektor tersebut.

Sementara itu, Dirjen Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian Benny Wachjudi yang mendampingi Menperin saat menerima CEO Global Financial menjelaskan, investasi perusahaan tersebut disambut baik mengingat kebutuhan akan gas saat ini cukup tinggi.

Dia mengatakan, CNG dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan gas sektor industri dan transportasi. "Kalau dalam bentuk compressed,gas kan bisa lebih mudah didistribusikan," ujarnya. Menurut dia, industri keramik, makanan minuman, sertasektortransportasisangat membutuhkan CNG.

Benny menambahkan,meski rencana investasi ini masih pada tahap awal, investor asal Oman itu sangat serius dengan target realisasi awal tahun depan. Nilai investasinya pun masih bisa berkembang. "Nilai investasinya untuk skala menengah bisa mencapai ratusan juta dolar," ujarnya.

source: okezone.com | July 2008

Wednesday, July 23, 2008

Daging sapi dari Indonesia lebih kompetitif

Tingginya harga daging sapi lokal di Indonesia merupakan konsekuensi dari status ternak sapi Indonesia yang bebas penyakit menular seperti penyakit mulut dan kuku atau PMK dan penyakit sapi gila. Kedua jenis penyakit sapi menular tersebut masuk dalam daftar A dan B Organisasi Kesehatan Hewan Dunia.

Menurut dewan pakar Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo) Rochadi Tawaf, di negara-negara yang ada kasus penyakit PMK dan sapi gila harga daging sapi yang mereka tawarkan cenderung murah. Hal ini bisa dipahami karena permintaan daging sapi ke negara-negara tersebut relatif berkurang, akibat banyak negara takut dan menghindari dampak buruknya.

Misalnya saja harga daging sapi di Brasil lebih rendah dibandingkan Australia dan Selandia Baru. Begitu pula harga daging di India, Kanada, Inggris, maupun Uruguay. Harga daging sapi di Indonesia cenderung lebih mahal karena sapi Indonesia bebas penyakit PMK dan sapi gila.

Data dari USDA menyebutkan, populasi sapi di Australia hanya 2,6 persen dari total populasi sapi dunia. Akan tetapi Australia merupakan negara terbesar kedua eksportir sapi setelah Brasil. Ini menunjukkan bahwa daging sapi Australia lebih diminati. Dengan kondisi yang bebas dari penyakit tersebut, Indonesia seharusnya berpeluang meningkatkan ekspor sapi.

source: kompas.com | July 2008

Wednesday, July 16, 2008

RI expected to enjoy rice surplus of 2 million tons in 2008

The Agriculture Ministry has expressed optimism that the country will enyoy a dry unhusked rice surplus of 2 million tons this year.

Director General of Food Crops Sutarto Alimoeso said on Tuesday the optimism was based on the Central Bureau of Statistics (BPS)`s forecast that the country`s rice output in 2008 would increase by 4.76 percent from a year earlier.

"We hope the increase will exceed the forecast so that we will enjoy a surplus of 2 million tons and do not need to import the staple this year," he said.

The BPS has projected the country`s dry unhusked rice production this year to reach 59.88 million tons, up by 2.72 million tons from 2007 due to an increase in the land area of harvested paddy field by 237,610 hectares and an increase in the productivity of paddy field by 130 kg/hectare.

Last year, Indonesia`s dry unhusked rice output rose by 4.98 percent or 2.70 million tons from 2006, leaving the country to enjoy a surplus of 1.5 million tons, he said.

In 2006, the country enjoyed a dry unhusked rice surplus of 50,000 tons, he added.

Sutarto said he would ask the National Land Agency (BPN) to allow rice growers to use idle land.

"We have millions of hectares of idle land. However, our farmers cannot make use of it," he said.

source: Antar | July 2008

Thursday, July 3, 2008

Saudis plan Rp 600b rice estate investment

A consortium of 15 Saudi Arabian investors is ready to take part in the Merauke Integrated Rice Estate (MIRE), injecting at least Rp 600 billion (US$65.04 million) into the region, an official says. Writing by Novia D. Rulistia for The Jakarta Post (07/03/08).

The Agriculture Ministry's secretary-general, Hasanuddin Ibrahim, said Wednesday each investor wanted to open about 5,000 to 10,000 hectares of land in Merauke, Papua.

"To open the land, investors need about Rp 8 million to Rp 10 million per hectare. So an investor needs to invest Rp 40 billion for every 5,000 hectares of land they want to open," he said after the signing of a memorandum of understanding with the State Logistics Agency (Bulog).

Merauke Integrated Rice Estate is a program designed to make the Merauke regency in Papua province an integrated rice production complex for supplying the staple food to eastern areas of the archipelago. The government has provided 1.6 million hectares of land for the program.

The ministry earlier said the investment would also be channeled for the construction of 700 kilometers of roads in the regency, 1,500 kilometers of connecting road to West Papua province, three ports and irrigation systems. The projects are expected to start by the end of this year.

The Central Statistic Agency says total harvest area last year in Papua was 20,788 hectares, up from 19,898 hectares a year earlier. The total harvest area in Indonesia was 12.16 million hectares, most located outside Java.

The ministry said the investors from the world's largest oil producer chose Indonesia for the agribusiness venture due to its decent water provision and supporting climate. In addition, Indonesia has adequate paddy conservation technology, including seedbeds, cultivation and reliable human resources.

Hasanuddin said there were also several local firms interested in joining the MIRE program, including Medco E&P Indonesia and PT Bangun Cipta Kontraktor.

According to the Investment Coordinating Board, Saudi realized investment in Indonesia reached $1.3 million last year from zero in 2006.

In addition to investment in the agriculture sector, investors from Saudi Arabia are also interested in investing in Indonesia's tourism, food-processing and energy sectors.

The government has taken considerable measures to attract investment from Middle Eastern countries, such as the introduction of the country's first law on sharia banking and the president's visit to Saudi Arabia, United Arab Emirates (UAE), Qatar, Kuwait and Jordan in early 2006

Other Middle Eastern investors who have expressed investment plans in Indonesia this year include Dubai-based real estate giant Emaar Properties, which says it wants to build the tallest skyscraper in Southeast Asia in the country, and Ras Al-Khaimah of the UAE, which is interested in developing the Tanjung Api-Api Port and a connecting railway to Palembang, South Sumatra.

source: BKPM | July 2008

Wednesday, July 2, 2008

Stok beras di posisi terbaik 10 tahun terakhir

Pengadaan beras oleh Perum Bulog hingga Juni 2008 mencapai 1,8 juta ton. Jumlah itu mencapai 52,6 persen dari target pengadaan beras pada 2008 sebesar 3,8 juta ton.

"Kata Kepala Bepenas/Menneg PPN Paskah Suzetta, pengadaan 1,8 juta ton ini merupakan angka terbaik pada 10 tahun terakhir," ujar Dirut Perum Bolug Mustafa Abubakar, usai melakukan tanda tangan dengan 13 K/L dan perbankan, di Gedung Bulog, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (2/7/2008).

Musatafa mengatakan, Bulog tidak mungkin bisa mencapai target 3,8 juta ton dengan cara biasa. Maka itu Bolug menggunakan tiga cara pengadaan beras nasional. Yakni, melalui jalur harga pembelian pemerintah (HPP), non-HPP, dan produksi melalui kerja 13 institusi pertanian dan perbankan.

Dari 3,8 juta ton yang melalui jalur HPP sebanyak 1,7 juta ton, jalur jalur nonHPP sebanyak 100 ribu ton, sementara melalui 13 K/L pertanian dan perbankan Bulog menargetkan produksi sebanyak 1,5-2 juta ton.

"Setidaknya dari kerja sama ini akan diproduksi 1,5 juta ton," harapnya.

Sebelumnya, Bulog kerap kali melakukan revisi target. Awalnya, jumlah beras nasional sekira 2,4 juta ton. Namun, direvisi menjadi 3,4 juta ton karena adanya penambahan program raskin menjadi 15 kg dengan periode 12 bulan. Lalu direvisi lagi menjadi 3,8 juta ton, karena adanya raskin untuk anggota Polri, rumah tahanan, dan rumah sakit.

source: okezone.com | July 2008

Ekspor industri pertanian Indonesia meningkat 8,7%

Ekspor industri pertanian selama periode Januari-Desember 2007 mencapai USD3,7 milyar. Kepala Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) Bachrul Chairi mengatakan jumlah tersebut meningkat 8,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2007.

"Komoditas Indonesia seperti kakao dan teh memiliki peluang yang besar di pasar Uni Eropa (UE)," katanya.

Menurut Bachrul, ekspor utama Indonesia antara lain kakao, teh, kopi, dan rempah-rempah. Dia menyebutkan negara tujuan utama ekspor antara lain Amerika Serikat (AS), Jepang, Malaysia,dan Singapura.

Dia menilai kondisi tersebut perlu disikapi oleh para petani dengan memaksimalkan produk pertanian yang sesuai standar UE.

Sementara itu, pengamat ekonomi Indef Ikhsan Mojo mengatakan Indonesia diuntungkan dengan kenaikan harga-harga komoditas pertanian. Ikhsan menyatakan produk Indonesia memiliki keunggulan dibandingkan dengan komoditas dari negara lain."Wajar jika terjadi kenaikan ekspor sebesar 8,7 persen dibandingkan periode sebelumnya," ungkapnya.

source: okezone.com | July 2008

Friday, June 27, 2008

Saudi investors ready to invest $2 B in RI`s Agroindustry

Eight Saudi large companies have set aside US$2 billion to develop Indonesia`s agroindustry, a Saudi executive said.

"Saudi Arabia has allocated huge funds for investment in the agroindustry. Eight Saudi companies are ready to cooperate with Indonesian partners which are serious in establishing such cooperation," Chairman of Saudi Arabia`s Global Unions Company Khalid S Al-Musa said at the Indonesia-Middle East Business Forum here on Thursday.

Indonesian companies had not much benefited from the Saudi market, he said adding the chance for Indonesia`s non-oil/gas products particularly rice to penetrate the Saudi market was wide open.

The current global food crisis had worried the Saudi Kingdom so that it decided to invest in the agroindustry sector abroad and Indonesia endowed with abundant natural resources was considered suitable for the development of food industry, he said.

"We open our market not only to rice but to palm oil and pineapple as well," he said.

According to the Indonesian president`s special envoy for the Middle East, Alwi Shihab, the Saudi king had offered sharing facilities to local companies wishing to cooperate with foreign partners in developing the agroindustry in support of the country`s food security.

Viewed from their emotional ties, Indonesia was the main choice for Saudi companies to invest in the agroindustry. Therefore, the Indonesian government must respond to the Saudi companies` wish by preparing land, he said.

"It is too early to discuss haring facilities with regard to the planned investment in the sector. What is important for Indonesia now is to prepare the land first," he said.

source: Antara | June 2008

Wednesday, June 25, 2008

Proses mudah, KUR mencapai Rp 7 Triliun

Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) mampu menyerap 700.000 debitour dengan kredit mencapai lebih dari Rp 7 triliun hingga 2 Juni 2008. "Hingga 2 Juni lalu, KUR yang terserap sudah mencapai Rp 7 triliun dengan debitor sebanyak 700.000," kata Menteri Negara Koperasi dan UKM, Suryadharma Ali seperti dikutip Antara, di Jakarta, Selasa (24/6).

Menurut dia, perkembangan program tersebut luar biasa dibandingkan pada periode sebelumnya yaitu pada kurun Februari ke April dan dari kurun April ke Juni 2008. Ia mengatakan, kredit pola penjaminan yang diluncurkan Presiden tahun lalu ini dinilai sangat membantu banyak pihak. Di antaranya perbankan sendiri sebagai penyalur kredit juga terbantu karena risiko ditanggung oleh pemerintah melalui lembaga penjamin PT Askrindo dan Perum Sarana Pengembangan Usaha (SPU). "Jadi risiko perbankan menjadi semakin kecil di bawah 30 persen, di samping risiko kemacetan kredit di tingkat UMKM pada umumnya di bawah 5 persen dan bahkan ada yang 3 persen," katanya.

Sementara pelaku UMKM sendiri juga akan sangat terbantu oleh program KUR karena mendapat fasilitas perkuatan modal yang mudah. "Mereka dapat dengan cara yang mudah paling lama 4 hari bahkan ada yang dua hari untuk mengajukan KUR. Dan saat ini KUR juga sudah bisa diajukan secara kolektif," katanya.

Ia menambahkan, saat ini ada sejumlah lembaga keuangan mikro yang juga menjadi kepanjangan tangan perbankan penyalur KUR sehingga masyarakat di daerah-daerah terpencil saat ini bisa turut menikmati program tersebut.

Program yang diluncurkan pada 5 November 2007 itu dan efektif sejak Januari 2008 itu, menurut Menteri dapat dinilai berhasil karena hanya dalam waktu kurang lebih 5 bulan (hingga Juni 2008) mampu menyerap 700.000 debitur yang disyaratkan merupakan debitur baru. "Jadi selama 7 bulan ke belakang Rp14,5 triliun diharapkan dapat terserap dan pada 2009 diasumsikan habis," katanya.

Jika dana tersebut terserap habis maka pemerintah tetap akan mengalokasikan dana khusus untuk melanjutkan program tersebut. Pada 2009 nanti, pihaknya untuk sementara waktu mengalokasikan dana Rp 1 triliun untuk bisa menjamin kredit sebanyak Rp 10 triliun.

source: kompas.com | 24 June 2008

Tuesday, June 17, 2008

Produktivitas Meningkat, Indonesia Siap Jadi Net-Eksportir Jagung

Menteri Pertanian Anton Apriyantono menyakini Indonesia segera menjadi net-eksportir jagung dengan cara meningkatkan produktivitas pada lahan yang ada saat ini. "Sekarang produktivitasnya baru 3,7 ton per hektar pada luas panen 3,6 juta hektar. Kalau produktivitasnya meningkat saja antara 4-5 ton per hektar, maka Indonesia siap jadi net-eksportir," ujar Mentan Anton Apriyantono.

Dengan asumsi capaian produksi tersebut tercapai, maka Indonesia sudah dapat dikatakan sebagai net-eksportir mengingat kebutuhan dalam negeri, terutama industri pakan ternak yang hanya mencapai 8,13 juta ton. Dengan demikian, terdapat kelebihan kebutuhan yang mencapai 7,5-8,5 juta ton. Bila kelebihan tersebut diserap untuk kebutuhan lain dalam negeri mencapai 2 juta ton, maka terdapat 5 juta ton yang bisa diekspor. Dalam catatan, negara-negara importer yang sampai saat ini membutuhkan jagung antara lain Malaysia, Jepang, dan India. Bahkan, Jepang setiap tahunnya membutuhkan jagung hingga 16 juta ton.

source: Departement Pertanian

Monday, June 16, 2008

Ketahanan pangan Indonesia dipuji dunia

Dalam Forum FAO Indonesia mendapat apresiasi sebagai negara yang paling responsif dan berhasil mengatasi persoalan yang mengarah kepada kondisi krisis pangan. Menteri Pertanian Anton Apriyantono tampil sebagai pembicara kunci dalam Lokakarya Nasional dan Pencanangan Gerakan Pemasyarakatan Teknologi (Gematek) untuk Ketahanan Pangan di Padang, Sumbar,Senin (9/6), Mentan menegaskan bahwa kita semua patut bersyukur bahwa ketika banyak negara di dunia mengalami krisis pangan yang hebat, Indonesia justru selamat dari ancaman krisis pangan.

Dibanding negara lain, Indonesia termasuk negara yang paling stabil dalam harga dan ketersediaan pangan. Bayangkan, ketika negara-negara lain mengalami kemerosotan yang tajam dalam produksi pangan, Indonesia justru meningkat tajam. Produksi padi nasional yang tumbuh 4,8% tahun 2007 telah memberi kontribusi sampai 36% dari pertambahan produksi padi dunia. Banyak negara anggota FAO memuji Indonesia. Tak kurang dari Mentan AS menyebut apa yang dilakukan Indonesia dalam mengatasi persoalan pangan dapat menjadi model bagi negara-negara lain.

Bahkan Presiden Madagaskar secara khusus minta bantuan kepada Indonesia agar mau mengirimkan pakar-pakar pangan ke negaranya. Padahal, sebelumnya, Madagaskar dikenal sebagai negara pelopor teknik SRI (system of rice intensification) dalam budidaya padi. Dalam acara yang digelar Universitas Andalas dan dihadiri Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi serta para bupati dan walikota se-Sumatera Barat, Mentan menyambut baik Gerakan Pemasyarakatan Teknologi Padi Tanam Sebatang (PTS) yang merupakan adaptasi dari teknik SRI.

Jika Sumbar berhasil mensosialisasikan PTS dalam peningkatan produksi pangan di wilayahnya, tambah Mentan, bukan tidak mungkin Sumbar kelak menjadi model bagi pengembangan ketahanan pangan untuk daerah-daerah lain di seluruh Indonesia.Teknik PTS, menurut Gubernur Sumbar, telah berhasil diujicoba pada sedikitnya 1.000 lahan sawah. Dari analisa bersama Tim Universitas Andalas, PTS ternyata bisa meningkatkan produktivitas padi rata-rata dengan tambahan 2 ton per hektar. Ke depan, Sumbar akan memasayarakatkan PTS sehingga bisa dilakukan oleh para kelompok-kelompok tani di seluruh wilayah Sumbar. Dengan cara ini, Gubernur Gamawan optimis Sumbar bisa meningkatkan kontribusinya terhadap surplus produksi padi nasional.

source: Departement Pertanian | June 16, 2008

Produksi beras nasional catat rekor terbesar dalam 10 tahun

Stok beras Indonesia saat ini mencapai 1,8 juta ton - merupakan terbesar selama 10 tahun terakhir.

Hal tersebut disampaikan Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta dalam rapat kerja dengan panitia ad-hoc DPD di gedung DPD Senayan Jakarta. Dengan stok yang besar itu Paskah optimis Indonesia bisa menghindari krisis kelangkaan pangan yang kini melanda negara-negara di berbagai belahan dunia.

source: detik.com